KERINCI – Kondisi Kantor Kecamatan Tanah Cocok (Tanco), Kabupaten Kerinci, semakin memprihatinkan. Bangunan yang seharusnya menjadi pusat pelayanan publik itu kini terancam ambruk akibat tanah di sekitarnya yang terus mengalami pergeseran dan longsor.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sebagian besar area halaman kantor telah hilang terkikis longsor. Kini, jarak antara bangunan utama dengan tebing tinggal sekitar dua meter saja. Jika tidak segera ditangani, risiko keruntuhan semakin besar, terutama saat intensitas hujan meningkat.
“Setiap kali hujan deras, kami cemas. Tanah makin tergerus, dan halaman kantor nyaris habis. Lapangan upacara pun sudah tidak bisa digunakan sepenuhnya,” ungkap salah seorang pegawai Kecamatan Tanco, Senin (3/11/2025).
Ia menuturkan, kondisi tersebut membuat aktivitas rutin di kantor terganggu, termasuk pelaksanaan upacara bendera setiap hari Senin. Lahan yang sempit memaksa sebagian peserta berdiri di tepi jalan raya.
“Biasanya perangkat desa juga ikut upacara, tapi sekarang banyak yang tidak bisa ikut karena tidak ada tempat lagi,” tambahnya.
Selain itu, akses menuju kantor juga dinilai berbahaya. Jalan yang berlubang dan licin ketika hujan membuat kendaraan sulit melintas.
“Sering kali motor tergelincir karena jalanan rusak dan licin. Kami harus ekstra hati-hati,” keluhnya.
Para pegawai mengaku telah berulang kali menyampaikan laporan dan permohonan perbaikan kepada Pemerintah Kabupaten Kerinci, namun hingga kini belum ada langkah konkret.
“Sudah sering kami usulkan, tapi sepertinya belum mendapat perhatian serius dari pihak kabupaten,” ujarnya dengan nada kecewa.
Keprihatinan serupa disampaikan warga sekitar. Nabil, warga Desa Koto Tuo Ujung Pasir, menilai kondisi tersebut mencerminkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap wilayah Tanah Cocok.
“Kantor camat ini tempat masyarakat mengurus berbagai keperluan. Kalau sampai rusak parah, jelas pelayanan publik akan terganggu,” tegasnya.
Ia berharap Pemkab Kerinci segera melakukan langkah antisipatif sebelum bangunan benar-benar tak bisa digunakan.
“Jangan tunggu sampai roboh baru bertindak. Kami merasa daerah ini seperti dianak-tirikan,” pungkas Nabil.
